Sulitnya Standard Regulasi & Persaingan Industri Jamu

POSTED BY admin asimas | Jul, 03, 2018 |
Jamu merupakan obat tradisional asli indonesia yang terbuat dari ramuan ramuan tanaman yang murni dari bahan alam tanpa ada kandungan bahan kimia. Dalam sejarahnya, menurut ahli bahasa jawa kuno istilah “JAMU” berasal dai kata JAMPI atau USODO yang berarti penyembuhan yang menggunakan ramuan ramuan tanaman obat , doa doa dan ajian ajian.
Jamu telah diyakini menjadi terapi pengobatan oleh tabib dan pengobat tradisional sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu sekitar masa kerajaan Hindu-Jawa. Resep atau ramuan tanaman yang ada pada JAMU diturunkan dari generasi ke generasi. Bagi masyarakat Jawa dan Madura, obat tradisional lebih dikenal dengan sebutan Jamu, baik dalam bentuk rajangan maupun bentuk serbuk siap seduh. Informasi tertulis tentang jamu yang hingga saat ini terpelihara dengan baik di Perpustakaan Kraton Surakarta adalah Serat kawruh dan serat centini.
Serat kawruh memberikan informasi yang sistemik tentang jamu, memuat 1.734 ramuan yang dibuat dari bahan alam dan cara penggunaanya serta dilengkapi dengan jampi-jampi. Kemudian jamu dibuat oleh industri rumah tangga pada awal 1900 dan sampai sekarang berkembang serta mengalami modernisasi menjadi bentuk sediaan yang lebih praktis seperti kapsul, kaplet, tablet, pil, hingga bentuk jamu cair dalam kemasan yang siap minum. Secara generasi ke generasi para pelaku usaha Jamu mayoritas adalah industri rumah tangga dan perorangan. Sekarang pola pikir masyarakat terhadap konsep Back To Nature semakin berkembang, sehingga persaingan di industri obat tradisional semakin banyak dan semakin ketat.
Selain dari UMKM dan perorangan Industri farmasi besar mulai ikut merambah ke produk produk herbal dan obat tradisional baik itu masuk kedalam kategori JAMU ataupun suplemen kesehatan. Ketatnya persaingan dan semakin tingginya standard regulasi untuk peningkatan kualitas JAMU maka banyak para UMKM dan pengusaha jamu / obat tradisional kecil yang tidak bisa melanjutkan usahanya.

TAGS :